Pada tanggal 16 Juni 2015, PT Wijaya Karya Beton melaunching produk Sistem Pracetak Tahan Gempa Berkinerja Tinggi untuk bangunan gedung pertama di Indonesia, yang dilakukan di Hotel Best Western Hive Cawang Jakarta. Acara launching ini mengundang banyak pakar konstruksi, perguruan tinggi, lembaga pemerintah, serta para pelaku dunia konstruksi baik dari konsultan, kontraktor, maupun pengembang. Acara ini terdiri dari presentasi dan diskusi, kunjungan ke site, dan kunjungan ke pabrik.
Pada acara diskusi, banyak pertanyaan, masukan dan tanggapan dari para peserta presentasi. Pemberlakukan peraturan gempa baru SNI 1726-2012 yang target kinerjanya berbeda dengan SNI 03-1726-2002, yaitu bangunan jika terkena gempa kuat pun harus tetap berfungsi merupakan diskusi yang paling hangat, karena efeknya yang besar ke investasi awal dan pelaksanaan yang lebih rumit. Prof. Bambang menegaskan di DKI Jakarta, sejak Juni 2014, sudah wajib menggunakan SNI 1726-2012, sedangkan pada daerah lain bergantung pada Perda yang ditetapkan masing-masing daerah atau spesifikasi kontrak yang ditetapkan. Hanya saja Prof Bambang Budiono mengingatkan bahwa pihak asuransi tentunya menginginkan bangunan gedung harus direncanakan tetap berfungsi selama masa layan bangunan. Sistem pracetak berkinerja tinggi merupakan alternatif yang cocok untuk antisipasi SNI 1726-2012, karena menjamin bangunan tetap berfungsi selama masa layan, dan terhindar dari kerumitan pelaksanaan lapangan yang sulit dikontrol pengawasannya seperti pada sistem konvensional.
Topik diskusi hangat yang lain adalah bagaimana aspek ekonomis sistem pracetak kinerja tinggi dibanding sistem konvensional, terutama pada investasi awal ?. Efisiensi bisa dilakukan dengan memanfaatkan metoda konstruksi yang alur gayanya berbeda dengan sistem konvensional, kecepatan pelaksanaan yang menghemat biaya kontruksi karena reduksi waktu, serta kontrol kualitas yang lebih baik bisa memberikan ‘previlege’ untuk mengambil angka keamanan yang lebih progresif. Salah satu contoh alur gaya sistem pracetak yang bisa dimanfaatkan adalah penggunaan sistem balok pracetak, yang pada masa konstruksi bersifat 2 perletakan, sehingga momen hanya bekerja di lapangan. Pada saat sudah disatukan, pada join balok kolom hanya menahan beban hidup dan beban gempa, sehingga kolom bisa direncanakan lebih ekonomis dibanding sistem konvensional. Dari kontrol kualitas, motto utama sistem pracetak adalah ‘quality control built in construction method’, yang menyebabkan tiap komponen pracetak sudah mengalami uji pembebanan pada tiap tahap pelaksanaannya (produksi, stocking, erection), sehingga jika ada ‘kesalahan’, akan terlihat secara fisik (retak, melengkung, bergetar, atau bahkan hancur) sebelum komponen tersebut difungsikan. Kontrol kualitas yang lebih baik ini membuat angka keamanan sistem pracetak dapat diambil lebih progresif dibanding sistem konvensional, yang efeknya jelas akan menghasilkan efisiensi material.



'LAUNCHING SISTEM PRACETAK TAHAN GEMPA BERKINERJA TINGGI PERTAMA DI INDONESIA, Part 3' has no comments
Be the first to comment this post!